Sabtu, 15 Juni 2013

Arti mimpi dan cara menafsirkanya scara bijak dan syar'i



Mimpi........inilah sesuatu yang semua orang biasanya pernah mengalaminya.
Dan saya sendiri Giyo Bares juga sering mengalaminya bahkan kadang ada kecocokan maknanya setelah terjadi dikehidupan yang nyata.
Dalam hal ini saya mencari referensi tentang mimpi untuk pembelajaran saya pribadi juga untuk semua orang yang ingin tahu tentang mimpi.
Ini kulakukan karena saya punya mimpi yang hingga saat ini masih teringat terus yang nantinya tafsirnya akan saya publikasikan ke blog ini setelah yang ini dulu.
Mimpi saya itu adalah melihat bulan kembar tiga dilangit dan mimpi itu terjadi di awal tahun 2011 yang lalu.
Terlepas dari itu mari kita simak dulu pembahasan tentang mimpi yang telah ku dapatkan:

Mimpi terbahagi dua:
1.mimpi yang benar
2.mimpi yang batil.
Mimpi yang benar ialah
yang dialami manusia tatkala kedudukan
psikologisnya seimbang dan keadaan cuaca
sedang seperti ditandai oleh bergoyangnya
pepohonan hingga berjatuhannya dedaunan.
Mimpi yang benar tidak didahului dengan
adanya pikiran dan keinginan akan sesuatu
yang kemudian muncul dalam mimpi.
Kebenaran mimpi juga tidak ternodai oleh
peristiwa junub dan haid. Adapun mimpi
yang batil ialah yang ditimbulkan oleh
bisikan nafsu, keinginan, dan hasrat. Mimpi
demikian tidak dapat ditakwilkan.
Demikian pula mimpi “basah” dan mimpi
lain yang mewajibkan mandi dikategorikan
sebagai mimpi yang batil karena tidak
mengandung makna. Sama halnya dengan
mimpi yang menakutkan dan menyedihkan
karena berasal dari setan. Allah Ta’ala
berfirman,
“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu
adalah dari setan, supaya orang-orang
yang beriman itu berduka cita, sedang
pembicarana itu tiadalah memberi mudharat
sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan
izin Allah dan kepada Allahlah hendaknya
orang-orang yang beriman bertawakal.” (al-
Mujaadilah: 10)
Jika seseorang mengalami mimpi yang tidak
disukai, disunnahkan melakukan lima
perbuatan. Yaitu, mengubah posisi tidur,
meludah ke kiri sebanyak tiga kali,
memohon
perlindungan kepada Allah dari godaan
setan yang terkutuk, bangun dan shalat,
dan tidak
menceritakan mimpinya kepada siapa pun.
Ustadz Abu Sa’ad berkata, “Pelaku mimpi
hendaknya memelihara etika yang perlu
dipegang teguh dan memiliki batasan-
batasan yang selayaknya tidak dilampaui.
Demikian pula halnya dengan pentakwil.”
Etika pelaku mimpi ialah, pertama, dia
tidak menceritakan mimpinya kepada orang
yang hasud sebagaimana dikatakan Ya’kub
kepada Yusuf,
“Ayahnya berkata, ‘Hai anakku, janganlah
kamu ceritakan mimpimu itu kepada
saudarasaudaramu,maka mereka akan
membuat makar untuk membinasakanmu.’”
(Yusuf:5)
Kedua, jangan menceritakan mimpinya
kepada orang yang bodoh. Nabi saw.
bersabda,
“ Janganlah kamu menceritakan mimpimu
kecuali kepada orang yang dicintai atau
kepada orang yang pandai.”
Ketiga, janganlah menceritakan mimpi
kecuali secara rahasia karena dia pun
melihatnya
secara rahasia pula. Jangan
menceritakannya kepada anak-anak dan
wanita. Sebaiknya mimpi itu diceritakan
menjelang awal tahun dan pada pagi hari,
bukan sesudah keduanya lewat. Adapun
etika pentakwil ialah sebagai berikut.
Pertama, jika saudaranya menceritakan
mimpi kepadanya, maka katakanlah, “Aku
kira
mimpi itu baik.”
Kedua, hendaknya menakwilkan mimpi
dengan cara yang paling baik.
Diriwayatkan bahwa
Nabi saw. bersabda, “Mimpi akan terjadi
sebagaimana ia ditakwilkan.” Juga
diriwayatkan
bahwabeliau bersabda, “Mimpi itu bagaikan
kaki yang menggantung selama belum
diungkapkan. Jika telah diungkapkan, maka
terjadilah.” Demikian yang disebut dalam
as-
Silsilah ash-Shahihah.
Ketiga, menyimak mimpi dengan baik,
kemudian menjawab si penanya dengan
jawaban
yang mudah dipahami.
Keempat, jangan tergesa-gesa menakwilkan
mimpi. Lakukanlah dengan hati-hati.
Kelima, menyembunyikan mimpi dan tidak
menyebarkannya sebab ia merupakan
amanat.
Jangan menakwilkan mimpi ketika
matahari terbit, ketika tergelincir, dan
ketika terbenam.
Keenam, memperlakukan pelaku mimpi
secara berbeda. Janganlah menakwilkan
mimpi raja seperti menakwilkan mimpi
rakyat, sebab mimpi itu berbeda karena
perbedaan kondisi
pelakunya.
Ketujuh, merenungkan mimpi yang
dikemukakan kepadanya. Jika mimpi itu
baik, maka
takwilkanlah dan sampaikanlah kabar
gembira kepada pelakunya sebelum mimpi
itu
ditakwilkan.
Jika mimpi itu buruk, maka janganlah
menakwillkannya atau takwilkanlah bagian
mimpi
yang takwilnya paling baik. Jika sebagian
mimpi itu merupakan kebaikan dan
sebagian lagi
keburukan, maka bandingkanlah keduanya,
lalu ambillah mimpi yang paling tepat dan
paling kuat pokoknya. Jika pentakwil
mengalami kesulitan, bertanyalah kepada
pelaku mimpi ihwal namanya, lalu
takwilkannya berdasarkan namanya itu.
SUMBER: Umaiyyatus Syarifah,MA (2010).
Tafsir mimpi menurut al quran dan
sunnah Ibnu Sirin. Universiti Islam Negeri
Malang, Indonesia.

Jangan lupa,mari berusaha bares/jujur agar semakin banyak orang yang jujur karena semakin banyak yang jujur negara akan semakin makmur.
Salam bares dari Giyo Bares

posted from Bloggeroid